Solo Pertama Kali

Menikmati Perjalanan

Sepertinya ini adalah perjalanan pertama saya yang paling nekat. Nekat menemui seseorang. Menerobos berbagai celah untuk benar-benar bisa berangkat ke Solo. Tujuannya: (1) saling sambaing, dan (2) pembuktian. Saling sambang, karena dia sudah datang jauh-jauh ke Lumajang dan Jember, lalu bulan depan berencana main dengan saya ke Banyuwangi. Pembuktian, untuk menunjukkan bahwa saya juga serius terhadapnya.

Tahu kan, dia se-spesial apa untuk saya?

Pagi itu, jam 5.10 saya sudah di stasiun. Terlalu pagi ya, untuk keberangkatan kereta jam 6 pagi. Saya berangkat awal hanya karena ingin tenang, daripada menunggu di kos hanya untuk datang ke stasiun mepet-mepet jam keberangkatan. Ee ternyata di stasiun, saya tidak benar-benar tenang. ATM saya hilang.

Saya membuka dompet untuk mengambil KTP yang akan diberikan ke petugas KA. Merasa ada yang mengganjal saat melihat kartu-kartu di dompet tidaklah lengkap. Ada satu slot kartu yang kosong. Kartu apa? ATM BNI, yang isinya duit organisasi. Duh modyar lah.

Muka saya pucat pasi saat itu. Mau cek langsung ke ATM kampus (tempat semalam saya setor tunai), tapi enggak memungkinkan karena waktu keberangkatan sudah mepet. Saya bingung setengah mati. Lalu pasrah. Enggak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa berdoa, sembari berharap ATMnya ditemukan orang, lalu diberikan ke satpam.

Perjalanan Jember-Solo membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam. Biasanya cukup 10 jam sih, tapi saat ini saya harus transit di Surabaya selama 3 jam. Saya berangkat ke Solo tidak sendiri. Melainkan bersama teman saya, yang juga sama-sama akan menghadiri kegiatan kampus di Solo untuk esok harinya.

Soal ATM, singkat cerita, saya menghubungi teman-teman saya di Jember untuk mengecek keberadaan ATM saya itu. Apakah ditemukan oleh seseorang lalu diberikan ke satpam, atau bagaimana? Nyatanya, satpam tidak mendapatkan laporan penemuan ATM. Lalu, ada dua kemungkinan lain: diambil orang, atau ditelan mesin ATM.

Kalau ditelan mesin ATM sih enggak masalah. Tapi kalau diambil orang lalu duitnya terkuras, saya bisa apa? Maka cepat-cepat saya blokir, rencananya dengan bantuan call center. Ealah ternyata call center nya njelimet banget. Saya pikir layanan call centernya seperti cek pulsa pembelian paket kuota, ternyata call centernya berupa telpon otomatis dari mbak-mbak mesin, yang kemudian harus pencet ini pencet itu. Juga, ternyata call centernya ngabisin pulsa. Lah, saya pikir gratis.

Maka, lagi-lagi saya pasrah. Biarlah diurus besok pagi di BNI Solo, sebelum saya menghadiri kegiatan kampus. Toh, ada yang nemenin: si dia. Kalau dia enggak mau nemenin, ya saya langsung balik kucing alias pulang. Kalau keesokan harinya dia tiba-tiba muntah darah, berarti itu kiriman dari saya, hahaha.

Selama di perjalanan, saya mendapatkan teman ngobrol yang sama-sama enak. Ada calon wisudawati UNEJ yang pulang ke Nganjuk dengan membawa boneka-bonekanya. Ada pula seorang laki-laki berusia hampir 30, yang sedang ke Jogja untuk lanjut kerja di bagian telekomunikasi. Juga ada seorang mahasiswa Jogja yang baru turun dari Gunung Semeru.

Obrolan di antara kita, sangat menarik. Si mbaknya, cara ngomongnya lucu-lucu menggemaskan gitu. Saya bertanya banyak hal ke dia tentang jurusan ilmu keperawatan, yang digelutinya. Sejauh ini, memang saya enggak punya teman yang berasal dari jurusan tersebut. Maka saya ambil banyak ilmu dari dia, tentang jurusannya.

Sementara, 2 cowok lainnya ini, karakteristiknya bertolak belakang. Yang satunya hobi banget naik gunung, eee yang satunya lagi blak-blakan bilang ‘mending puas-puasin tidur daripada capek-capek naik gunung’. Eee yaweslah. Untungnya enggak sampai terjadi adu nyinyir di antara mereka. Si cowok pendaki ini lebih memilih mengalah soal opininya. Tapi huu yang cowok satunya ini, suka cerita dan dia menceritakan banyak hal. Praktislah, kereta saat itu tidaklah sepi seiring langit yang semakin gelap.

Saya tiba di Stasiun Purwosari, sekitar jam setengah 7 malam. Saya dijemput olehnya. Entah dijemput dimana. Katanya disuruh berjalan menuju jalan raya. Padahal saya enggak tahu kanan-kirinya stasiun.

Saat saya berjalan keluar dari stasiun, dia whatsapp lagi, tanya: saya pakai baju apa. Dih, mbok yo digoleki dewe. Belum ketemu udah bikin kesel ih. Seingat saya, dulu pas saya jemput dia di stasiun Jember, saya enggak tanya dia pakai baju apa. Ya saya bener-bener nungguin. Ngeliatin muka orang satu-satu. Eee pas ketemu, saya coba sapa dia, dia malah bilang “Maaf, mbak siapa ya? Enggak kenal” katanya sambil melengos. Gimana enggak bikin kesel coba. Kudu tak pentung ae rasane.

Maka pertanyaan dia soal saya pakai baju apa, enggak saya jawab. Saya cuekin. Saya malah nanyain kawan saya itu, dia dijemput oleh siapa. Ternyata dijemput oleh kawan barunya, ya orang-orang riset gitulah.

Saat saya sedang mengobrol dengan kawan saya, eee tiba-tiba ada orang nabrak saya dari belakang, sambil bilang “Eeee sorry sorry”. Dia menabrak sambil lari-lari kecil, terburu-buru. Lalu enggak lama kemudian berhenti untuk jalan biasa.

Saya merasa ada yang aneh. Sepertinya saya enggak asing dengan rupa tampak belakangnya orang itu. Rambutnya, postur tubuhnya, celananya.

Ah, sial. Si dia.

Duh, saya enggak tahu mau berekspresi seperti apa. Mau marah, tapi ini adegan bohongan. Mau becanda, tapi kok dianya ngeselin. Mau ketawa, tapi jadinya menertawakan diri sendiri karena ditipu. Mau ngegampar ini tapi kok ya sayang. Yaweslah, saya pilih ketawa aja sambil marah-marah karena dia ngeselin.

Duh laaah, orang ini masih aja ngeselin. Pun saat saya menulis catatan ini, dia masih tampak menyebalkan buat saya. Hahaha.

Malam itu, adalah malam pertama saya menikmati dinginnya kota Solo. Dengan dibonceng olehnya, saya menikmati jalan raya kota Solo. Jalanannya lebaaar banget, tapi lebarnya tertata. Bangunan-bangunan ditata sedemikian rupa supaya tidak mepet banget dengan bibir jalan. Dipastikan saja, ada halaman yang cukup luas di depan bangunan utama.

Selain lebarnya yang tertata, jalanannya juga terjaga. Terjaga, memastikan para pengendara untuk merasa teduh saat berkendara. Iya, di kanan kiri jalan raya terdapat banyak sekali pohon yang rindang. Aih, Solo keren deh.

— bersambung —

Iklan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.